Ahad, 20 Januari 2013

Pengemis Jalanan Menyusur Matahari





"Semakin jauh menyusur matahari
Semakin aku hilang arah tujuku
Tidak kusangka yang terang akan suram
Meskipun intan bayangnya
Jua tak berwajah

Biarpun gelap malam
Mata terpejam hatiku tenang
Kekusutan ansur pulang
Bersama bayang siang semalam"



Sayup-sayup dari ruang maya kau hilangkan diri tanpa memberi ruang untuk aku menjejak barang satu pun bayang yang kau tinggalkan... Sewaktu kau katakan yang aku perlukan kau di waktu susah dan senang, angin yang bertiup pun mendinginkan suasana. Bahkan di waktu susah dan senang engkau, hanya aku yang kau cari saban waktu. Namun saat ingin dikongsikan rasa gembira dan duka yang datang serentak pada waktu ini, kau hilang tanpa dapat dikesan. Tiap apa yang kau katakan bagai tidak memberi apa-apa makna. Bagai pengemis jalanan, aku tertanya-tanya...adakah aku hidup di dalam dunia kamu atau aku sekadar pengemis jalanan yang mengemis di ruang kosong yang sudah tidak berorang. 





Jika ini memang apa yang kau maksudkan dahulu....membiarkan aku sendiri tanpa sebarang petanda merupakan penamatnya...lafaazkan dengan nyata kepada aku agar aku tidak terus menyiksa diriku kerana kamu... Izinkan aku tamatkan waktu genting di semester akhir ini dengan tenang yang cukup tenang...bukan dengan gelora dan badai yang datang tidak henti-henti...  





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
We're not friends. We're not enemies. We're just strangers, with some memories...

Suka Tak?

Yang Menghidupkan Hidup